Hari menua di ujung kebun,
matahari tenggelam perlahan di antara ranting dan kabut,
sisa cahaya menyapu wajah letih
yang sudah lama tak bicara dengan siapa-siapa.
Tanah masih lembap oleh keringat,
tapi musim tak selalu memberi jawab.
Ia duduk di pematang sunyi,
menggenggam secangkir kopi —
pahitnya tak jauh beda dengan hidup yang ia telan saban hari.
Dari jauh terdengar ayam pulang,
dan suara jangkrik mulai menulis malam.
Ia pandangi ladang yang separuh tumbuh, separuh gagal,
seperti nasibnya sendiri —
tak sepenuhnya hidup, tak sepenuhnya mati.
Angin lewat, membawa bau tanah dan kesepian,
ia tersenyum kecut,
mengingat anak yang merantau,
dan harga gabah yang tak kunjung naik.
Di bawah langit yang tak menaruh janji,
ia meneguk sisa kopi dingin,
menatap masa depan yang samar,
dan berbisik pelan pada dirinya sendiri:
“Barangkali besok tetap sama,
tapi aku takkan berhenti menanam harap.”
Editor: Ais Le
