Halsel – Senja merambat pelan di ujung kebun. Sinar matahari terakhir menembus celah ranting, menyisakan bayang-bayang letih di wajah seorang petani yang duduk diam di pematang sawahnya. Di tangannya, secangkir kopi hitam menebar aroma kuat, seolah menjadi saksi dari segala getir yang ia jalani.
Puisi “Di Antara Kopi dan Malam” bukan sekadar untaian kata, melainkan cermin kehidupan ribuan petani di pelosok negeri yang hidup di antara harapan dan kenyataan. Dalam kesunyian sore yang menua, mereka tetap bekerja tanpa banyak bicara, dengan tangan yang menanam lebih banyak dari sekadar benih—mereka menanam harapan.

Musim seringkali tak memberi jawab. Harga gabah yang tak kunjung naik membuat banyak petani harus menelan pahit, sama seperti kopi yang menemani malam mereka. Namun di tengah kegelapan itu, ada sejumput tekad yang tak pernah padam: untuk tetap bertahan, untuk tetap menanam, meski masa depan kerap samar di cakrawala.
Puisi ini menjadi refleksi sosial—tentang manusia, ketabahan, dan cinta sederhana pada tanah yang memberi hidup, meski tak selalu memberi cukup. Di antara kopi dan malam, terselip kisah keteguhan yang tak pernah usang.
Editor: Ais
