Oleh: Mirna L. Misran
Palestina, terkhususnya Gaza. Menjadi sorotan dunia hingga hari ini. Bagaimana tidak, berbagai macam genosida yang dilakukan oleh zionis Yahudi berupa pengeboman dan serangan yang semuanya menjadi sasaran tanpa melihat dia balita, anak – anak, perempuan, maupun seorang lansia. Sederet fakta menunjukkan betapa liciknya Zionis Yahudi, saat kemarin disaksikannya akan diadakan gencatan senjata namun nihil, semua itu hanyalah ucapan semata tanpa pembuktian yang nyata. Zionis Yahudi juga melakukan blokade total dan melarang bantuan pangan masuk ke Gaza serta membiarkan penduduknya mati pelan – pelan karena kelaparan.
Dari blokade yang dilakukan oleh Zionis Yahudi, mereka hanya mengizinkan masuknya bantuan pangan melalui empat titik distribusi yang dikelola oleh lembaga Gaza Humanitarian Foundation (GHF) yang dikendalikan oleh Amerika Serikat (AS) dan Zionis Yahudi. Namun, bantuan ini berubah menjadi terbantainya kaum muslimin di Gaza.
Bantuan kemanusiaan telah dimanipulasi Oleh Zionis Yahudi. Mereka mendesain sebuah yayasan kemanusiaan untuk memberikan bantuan kepada kaum muslimin di Gaza namun itu hanyalah Uslub agar pembantaian terus berlanjut. Musuh tetaplah musuh, mau sebaik apapun dia saat masih tertancap dalam dirinya sebuah ego untuk menguasai sebuah negeri dia akan membuat berbagai macam cara agar semua terlaksana begitulah Isriwil. Buktinya, kementerian kesehatan gaza menyatakan bahwa sejak GHF beroperasi, sekitar 163 warga palestina tewas dan lebih 1000 orang mengalami luka – luka saat berusaha mendapatkan bantuan.
Antara Nasionalisme Dan Matinya Rasa Kemanusiaan
Apa yang terjadi dengan Gaza, seharusnya menunjukkan duka pilu bagi kita kaum muslimin. Seperti yang disabdakan Rasulullah bahwa kita satu tubuh apabila ada yang sakit maka semua akan merasakan sakit, namun semua itu lenyap karena Nasionalisme/Nation State. Lihat saja, negeri – negeri muslim di pinggiran Gaza seperti Mesir, Arab, dan lain sebagainya mereka bungkam dan menutup mata, seakan – akan tidak terjadi apa – apa.
Mirisnya negeri ini begitupun orang – orangnya. Mereka melihat dengan terang – terangan atas apa yang dilakukan oleh Zionis Yahudi terhadap Gaza. Jerit tangis bayi dan kelaparan, anak – anak yang bersimbah darah, juga para ibu dan lansia yang kehilangan keluarganya tidak mampu mengetuk hati nurani mereka. Para penguasa muslim seakan – akan buta dan menutup telinga, tidak aksi nyata yang dilakukan untuk membebaskan Gaza hanyalah kecaman – kecaman yang selalu dilontarkan namun tanpa makna.
Ironisnya, sejumlah penguasa Arab justru menjalin hubungan erat dengan Amerika Serikat, negara yang menjadi pendukung utama rezim Zionis. Mereka cenderung mengikuti setiap kebijakan dan arahan yang ditetapkan oleh AS, bahkan rela menginvestasikan triliunan dolar di sana. Padahal, saat itu Presiden Trump secara terbuka merencanakan relokasi penduduk Gaza dan menjadikan tanah Isra’ Mi’raj sebagai tempat yang jauh dari nilai-nilai suci. Lebih jauh lagi, para pemimpin muslim ini juga memenuhi tuntutan AS untuk menandatangani Abraham Accords sebuah kesepakatan yang pada hakikatnya berarti pengakuan terhadap kedaulatan entitas Zionis dan normalisasi hubungan dengan pihak penjajah tanah Palestina.
Nasionalisme telah membungkam nurani kemanusiaan para pemimpin negeri-negeri muslim tak lagi tersentuh oleh penderitaan saudara seiman di Palestina yang setiap hari meregang nyawa dan bermandi darah. Rasa empati sebagai sesama muslim nyaris hilang dari hati mereka, padahal perasaan kemanusiaan adalah fitrah yang Allah SWT tanamkan dalam diri setiap manusia, sebagai wujud dari garizah nau’ naluri untuk mencintai dan menyayangi. Bahkan, sebagian masyarakat non – muslim masih menunjukkan kepedulian terhadap nasib umat Islam di Gaza dan turut menyuarakan kemerdekaan Palestina. Sementara itu, sebagian penguasa muslim justru tampak telah kehilangan rasa belas kasih dan kepekaan terhadap tragedi kemanusiaan.
Fenomena ini tidak lepas dari pengaruh sistem sekuler-kapitalistik yang mereka anut. Sistem yang menjunjung tinggi materi dan kekuasaan, serta mendorong munculnya rasa kebenian dan ketidakpedulian terhadap manusia lainnya. Kekejaman Zionis terhadap rakyat Palestina, yang sangat nyata dan terus berlangsung, tidak mampu menggugah hati nurani mereka.
Lebih dari itu, nasionalisme menjadi tembok penghalang bagi para pemimpin muslim untuk bersikap adil dan bertanggung jawab terhadap penderitaan rakyat Palestina. Padahal, ketika umat Islam diserang, baik di negeri sendiri maupun di negeri muslim lainnya, menjadi kewajiban bagi para penguasa muslim untuk tampil membela dan melindungi mereka. mereka haram untuk bersikap apatis dan tidak peduli terhadap penderitaan muslim Palestina.
Kesadaran Umat Solusi Hakiki Palestina.
Dari fenomena yang menyayangkan terhadap palestina, umat seharusnya sadar bahwa yang menjadi penyebab utama akan hilangnya rasa empati dan kemanusiaan itu adalah masih diterapkan nasionalisme dalam diri setiap kaum muslim hari ini. Serta menyadari bahwa solusi hakiki akan Palestina hanyalah Jihad dan Khilafah. Palestina adalah milik Kum muslim selamanya, tidak untuk dibagi apalagi dihancurkan oleh tangan – tangan kotor penjajah dan menjadi rebutan – rebutan negara adidaya.
perlu diketahui bahwa pembebasan Palestina dimulai pada masa Khalifah Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu pada 637 Masehi atau 15 Hijriah. Pada saat itu, kunci Baitul maqdis diserahkan oleh Patriark Sophronius, seorang pemimpin agama Kristen Ortodoks di Yerusalem, kepada Khalifah Umar bin Khaththab Radhiyallahu‘ anhu. Penduduk Yerusalem sepakat menyerahkan kota secara damai kepada umat Islam.
Semua ini harus benar – benar dipahami oleh umat Islam bahwa sejatinya persoalan Palestina hanyalah bisa dibebaskan oleh sebuah negara yang mengikuti metode kenabian atau menerapkan islam didalamnya yakni Khilafah Islamiah untuk itu kaum muslim harus berusaha untuk mengembalikan negara Khilafah Islamiah. Ketika kaum muslim bergerak bersama dengan visi yang sama maka akan membangun kesadaran dan kekuatan umat. Terbentuknya kesadaran umum pada mayoritas umat akan mendorong umat agar terus fokus berjuang di jalan dakwah sesuai dengan thariqah (metode) Rasulullah.
Hanya thariqah dakwah Rasulullah yang akan mengantarkan kepada kemenangan Islam secara hakiki. Thariqah dakwah untuk menegakkan Khilafah mencakup tiga tahapan dakwah yang dipraktikkan oleh Rasulullah ﷺ di Makkah hingga berhasil menegakkan Daulah Islam di Madinah.
Pertama, tahap pembinaan dan kristalisasi tsaqafah Islam. Pembinaan secara intensif harus berjalan dengan menjadikan Islam sebagai ideologinya, serta ilmu dan tsaqafah yang didapatkan dalam pembinaan diamalkan secara langsung dalam realitas kehidupan.
Kedua, tahap interaksi (tafa’ul) dengan masyarakat hingga Islam menjadi jalan hidup bagi setiap muslim. Pada tahapan ini mulai terjadi pergolakan antara umat dengan orang-orang yang menghalangi diterapkannya Islam, seperti penjajah Barat, penguasa dan orang-orang zalim, juga para pengikut ideologi sekuler kapitalisme serta pemikiran turunannya. Berinteraksi dengan masyarakat dilakukan untuk memberikan pemahaman dan kesadaran mereka akan pentingnya ideologi Islam dan sistem Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Ketiga, tahap menerima kekuasaan secara menyeluruh melalui dukungan umat, yakni terbentuknya negara Khilafah yang terdorong dari keinginan umat Islam yang muncul dari kesadaran dan pemahaman Islam secara kafah (Disarikan dari kitab At Takattul al–Hizbiy, hlm. 51 yang ditulis oleh Syekh Taqiyuddin an-Nabhani).
Oleh karena itu, segala upaya yang dilakukan untuk menjauhi thariqah dakwah Rasulullah ﷺ tidak akan mengantarkan pada kemenangan hakiki, baik melalui people power ataupun jalur pemerintahan demokrasi / parlemen seperti yang terjadi hari ini.
Mereka yang telah memiliki kesadaran dan pemahaman Islam secara menyeluruh yakni para pengemban dakwah perlu senantiasa waspada terhadap berbagai ancaman yang dapat mengganggu keberlangsungan dakwah. Ancaman tersebut datang dari dua sisi: pertama, bahaya internal, seperti merasa lebih tinggi atau lebih suci dibandingkan umat; dan kedua, bahaya ideologis, berupa infiltrasi pemikiran asing yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti sekularisme, kapitalisme, demokrasi, liberalisme, pluralisme, hedonisme, feminisme, serta ideologi-ideologi lain yang tidak bersumber dari wahyu. Kedua jenis bahaya ini patut diwaspadai karena dapat menjauhkan umat dari metode dakwah Rasulullah ﷺ yang telah terbukti membawa perubahan besar dalam sejarah peradaban manusia. Keyakinan yang kokoh terhadap keabsahan thariqah (metode) dakwah Rasulullah ﷺ menjadi kunci utama dalam meraih kemenangan umat Islam di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam perjuangan membebaskan Palestina dan mengusir penjajahan Zionis dari bumi yang diberkahi.
