Halsel ; OriNettv.com – Aksi massa yang menuntut pergantian antar waktu (PAW) terhadap anggota DPRD Halmahera Selatan, Masdar Mansur, mendadak menjadi sorotan tajam. Di balik kerumunan massa dan teriakan tuntutan, kini muncul dugaan kuat bahwa aksi tersebut bukan murni suara rakyat, melainkan sudah ditunggangi oleh kepentingan tertentu yang terorganisir rapi.
Informasi yang beredar di tengah publik menyebut, aksi itu seperti sengaja digiring untuk menciptakan opini buruk terhadap Masdar Mansur. Isu-isu dilempar ke ruang publik seakan-akan mewakili keresahan masyarakat, padahal ada aroma kepentingan lain yang lebih dominan ketimbang aspirasi rakyat sejati.
Sumber lapangan mengungkap, pola mobilisasi massa dalam aksi tersebut terbilang rapi dan terencana. Hal itu memunculkan kecurigaan bahwa aksi ini bukan sekadar spontanitas warga, melainkan hasil rekayasa untuk menggiring narasi tertentu agar Masdar Mansur dipaksa keluar dari kursi DPRD melalui jalur PAW.
Banyak pihak menilai, bila benar aksi ini ditunggangi, maka sesungguhnya demokrasi di Halsel sedang berada di titik rawan. Bagaimana tidak, suara rakyat yang mestinya dijaga kemurniannya justru dicabik dan diperalat sebagai kendaraan kepentingan politik maupun kelompok tertentu.
“Ini bukan lagi aksi perjuangan rakyat, tapi panggung yang dimainkan oleh aktor-aktor tertentu yang ingin memanfaatkan momentum. Rakyat hanya dijadikan alat,” ucap salah seorang aktivis muda yang ikut menyoroti fenomena tersebut.
Suasana di lapangan sendiri tampak penuh dengan teriakan-teriakan desakan PAW. Namun ironisnya, sebagian masyarakat sekitar justru mengaku tidak mengetahui dengan jelas dasar tuntutan yang disuarakan. Hal ini makin memperkuat dugaan adanya skenario di balik layar yang sengaja menciptakan citra negatif terhadap Masdar Mansur.
Pengamat politik lokal juga menilai, aksi yang sudah terkontaminasi kepentingan akan berbahaya bagi iklim demokrasi. Alih-alih menyuarakan kepentingan rakyat, aksi semacam ini justru hanya melahirkan ketidakpercayaan publik terhadap gerakan massa dan memperlebar jurang antara wakil rakyat dengan rakyat yang diwakilinya.
Dugaan penunggangan aksi ini juga menimbulkan pertanyaan serius: siapa aktor yang bermain, dan apa tujuan utama mereka? Pertanyaan ini bergaung keras di ruang publik Halsel, karena masyarakat mulai jenuh dengan drama politik yang mengorbankan nama rakyat demi segelintir kepentingan.
Sejumlah tokoh masyarakat meminta agar pihak berwenang, termasuk aparat penegak hukum, ikut menelusuri dugaan adanya dalang di balik aksi tersebut. Menurut mereka, rakyat berhak tahu siapa yang sebenarnya bermain, agar ke depan tidak ada lagi gerakan massa yang dijadikan panggung kepentingan.
“Kami minta semua pihak berhenti memperalat rakyat. Kalau memang ada masalah, selesaikan secara prosedural, jangan dengan cara-cara kotor seperti ini. Rakyat jangan jadi korban,” tegas salah seorang tokoh Masyarakat di Halsel.
Kini, bola panas ada di tangan DPRD Halsel dan partai politik yang menaungi Masdar Mansur. Publik menanti apakah mereka berani membuka tabir sebenarnya di balik aksi ini, atau memilih diam dan membiarkan isu penunggangan terus menjadi duri yang merobek kepercayaan masyarakat terhadap lembaga dewan.
