JAKARTA : OriNettv.com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai tidak melihat Piala Dunia 2026 semata sebagai agenda olahraga, melainkan sebagai etalase bisnis global yang sarat kepentingan ekonomi dan geopolitik.
Dalam perspektif tersebut, isu potensi kegagalan, krisis, maupun kekacauan global dianggap masih terlalu jauh untuk menjadi ancaman nyata terhadap suksesnya ajang olahraga terbesar di dunia itu.
Trump dikenal sebagai figur dengan pendekatan dagang yang tegas. Dalam logika bisnisnya, kerugian bukanlah pilihan yang dapat ditoleransi, apalagi pada sebuah perhelatan berskala dunia seperti Piala Dunia. Stadion kosong bukan sekadar persoalan citra olahraga, melainkan simbol kegagalan manajemen dan laporan keuangan yang memalukan.
Bagi Trump, Piala Dunia adalah simpul perputaran uang—mulai dari tiket, sponsor, hotel, maskapai penerbangan, hingga kepentingan para sekutu ekonomi yang telah lama bersiap mengambil keuntungan. Karena itu, stabilitas global menjadi variabel penting agar ajang tersebut berjalan optimal dan menghasilkan keuntungan maksimal.
Di sisi lain, muncul kelompok-kelompok pengkritik atau haters yang terus mengedepankan analisis moral, etika, serta prediksi krisis global—mulai dari pandemi, konflik bersenjata, hingga ketidakstabilan geopolitik. Namun pendekatan tersebut dinilai lebih banyak menghasilkan kegaduhan ketimbang solusi konkret.
Sementara diplomasi bekerja secara perlahan dan sistematis untuk menjaga stabilitas, kegaduhan politik justru diproduksi dengan cepat, murah, dan instan. Dalam konteks ini, stabilitas sering kali kalah menarik dibanding narasi kekacauan yang lebih dramatis dan mudah dikonsumsi publik.
Fenomena tersebut menciptakan paradoks: banyak pihak mengklaim menginginkan dunia yang aman dan stabil, namun justru merasa kecewa ketika stabilitas benar-benar tercapai. Dunia yang tenang dianggap membosankan, sementara kekacauan diperlakukan layaknya hiburan politik.
Dalam kondisi seperti itu, setiap upaya menjaga keseimbangan global kerap disertai ramalan kiamat versi terbaru. Bukan karena kehancuran itu pasti datang, melainkan karena sebagian pihak terlalu nyaman hidup dari prediksi buruk dan sensasi krisis.
Bagi Trump, pendekatan semacam itu tidak relevan. Fokusnya sederhana namun efektif: memastikan Piala Dunia 2026 tetap penuh penonton, menguntungkan secara ekonomi, dan berjalan tanpa gangguan besar. Dalam dunia bisnis, kursi kosong bukan simbol protes—melainkan tanda kegagalan pengelolaan.
Editor : Redaksi
Sumber : Hj Hagia sofia
Jurnalis Perang Alutsista
