Tiyo Ardiyanto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, menyampaikan sikap kritis dan argumentatif terhadap arah kebijakan nasional, khususnya terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG),( foto ilustrasi)
Yogyakarta, OriNettv.com 23 Februari 2026 — Tiyo Ardiyanto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, menyampaikan sikap kritis dan argumentatif terhadap arah kebijakan nasional, khususnya terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta mengirim surat kepada UNICEF dan menyampaikan pesan terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto.
Di kutip dari media MudaNews.com. Ia menegaskan bahwa sikap yang disampaikan bukan bentuk oposisi personal terhadap presiden, melainkan representasi suara mahasiswa dan rakyat yang bertujuan memastikan kebijakan publik berjalan efektif dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas di Indonesia.
Kritik terhadap Program MBG
Tiyo menilai Program MBG merupakan kebijakan besar yang menyentuh jutaan anak sehingga harus dirancang secara matang, bukan sekadar pendekatan populis. Ia menyoroti tiga aspek utama.
Pertama, keberlanjutan anggaran dan ketahanan fiskal. Menurutnya, program berskala nasional membutuhkan pembiayaan besar dan berkelanjutan.
Tanpa perencanaan matang, kebijakan berisiko mengorbankan sektor penting lain seperti pendidikan, kesehatan, dan subsidi produktif.
Kedua, distribusi dan potensi kebocoran. Ia mengingatkan tantangan penyaluran bantuan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta risiko penyimpangan apabila pengawasan tidak ketat.
Ketiga, pendekatan struktural. Ia menilai program makan gratis harus terintegrasi dengan edukasi gizi keluarga, pemberdayaan petani dan UMKM, penguatan rantai pasok domestik, serta pembaruan data kemiskinan dan stunting agar berdampak jangka panjang.
Surat ke UNICEF: Mencari Perspektif Global
Selain kritik domestik, Tiyo juga mengirim surat kepada UNICEF guna meminta masukan berbasis riset internasional terkait implementasi program gizi anak. Ia berharap pemerintah dapat mempelajari praktik terbaik dari negara lain dan memastikan kebijakan nasional selaras dengan prinsip kepentingan terbaik bagi anak.
Langkah tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa kritik mahasiswa tidak berhenti pada penilaian, tetapi juga menawarkan solusi berbasis referensi global.
Pesan Terbuka kepada Presiden
Dalam pesannya, Tiyo menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan bukan dilandasi kebencian, melainkan kegelisahan terhadap masa depan bangsa. Ia mengingatkan bahwa keputusan presiden memiliki dampak luas terhadap ekonomi, demokrasi, dan keadilan sosial.
Ia juga menyoroti pentingnya empati dalam merumuskan kebijakan, terutama bagi masyarakat yang hidup dalam keterbatasan. Selain itu, ia mengajak untuk fokus menjalankan amanah jabatan saat ini dan tidak terjebak pada kalkulasi politik jangka panjang.
Tiyo turut mengingatkan bahaya lingkaran orang-orang yang hanya menyenangkan atasan serta risiko data yang telah disaring sebelum sampai kepada pemimpin. Ia mendorong agar presiden turun langsung ke masyarakat untuk memastikan kebijakan berbasis realitas lapangan.
Tiyo menegaskan bahwa demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi tanpa kritik, melainkan demokrasi yang mampu menerima kritik sebagai energi perbaikan. Ia menilai sejarah pada akhirnya akan mencatat apakah kekuasaan digunakan untuk kepentingan segelintir elite atau untuk memperluas kesejahteraan rakyat.
Tim Redaksi
